NO
|
Nama
|
Tahun
|
Prestasi
|
1
|
Muhammad Rudi Taufan
|
2018
|
Runner Up pada ajang Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Tengah
|
2
|
Ahmad Rusda Yanto
|
2018
| |
3
|
Noer Zalida Putri
|
2018
|
Lolos seleksi untuk Belajar di University of Hawaii, Amerika Serikat melalui Program YSEALI
|
4
|
Beberapa Mahasiswa
|
2017
|
Mahasiswa Prodi TBI menjadi Peserta dan Speaker pada Seminar Internasional The 5TH ELITE International Conference di UIN Semarang
|
5
|
Zahra
|
2017
|
Peraih No 2 bidang Penulisan Essay untuk Kalangan Mahasiswa pada Festifal Literasi Komunitas Baca, Balai Bahasa Provinsi Kalteng
|
6
|
Beberapa Mahasiswa
|
2017
|
Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Inggris Banjiri Prestasi pada Pekan Kreativitas Mahasiswa IAIN Palangka Raya
|
7
|
Raudatul Jannah
|
2017
|
Sebagai Putri Pariwisata Persahabatan Kota Palangka Raya 2017
|
8
|
Muhammad Takdir
|
2017
|
Berhasil lolos dalam seleksi mewakili Provinsi Kalimantan Tengah, dalam kegiatan AIYEP (Australia Indonesian Youth Exchange Program).
|
9
|
Muhammad Takdir
|
2016
|
Juara 1 Tingkat Nasional pada Pentas Seni Pemuda Nusantara dan Juara 3 pada Pawai Pemuda Nusantara Pada Jambore Pemuda Indonesia (JPI).
|
10
|
Muhammad Boy Solihin
|
2016
|
Juara 1 Tingkat Nasional pada Pentas Seni Pemuda Nusantara dan Juara 3 pada Pawai Pemuda Nusantara Pada Jambore Pemuda Indonesia (JPI).
|
11
|
Muhammad Sandy Alfath
|
2016
|
Perwakilan Indonesia Acara International Symposium OISAA 2016 di Auditorium Muhammad Abduh Al Azhar University, Kairo, Mesir
|
rnational Conference di IAIN Pontianak Kalbar The First BUAF (Borneo Undergraduate Academic Forum
| |||
13
|
Zainuri
|
2016
|
Sebagai Narasumber Tingkat Internasional Acara: Cultural Fiesta di Ma'din Academy Kerala, IndiaTema: Indonesia: A Country of Diversity
|
14
|
Risky Ansyari
|
2016
|
Peraih Juara 1 Jagau Pariwisata Di Ajang Pemilihan Jagau dan Nyai Pariwisata Kota Palangka Raya
|
Gara-gara semakin populernya dunia blogging, banyak orang yang tertarik untuk membuat artikel.
Membuat artikel itu sepertinya gampang…
…tinggal ngetik.
Tapi jangan anggap remeh.
Membuat artikel yang menarik itu tidak mudah.
Apalagi untuk website!
Website beda dengan buku. Saat orang-orang browsing website, mereka biasanya tidak suka baca artikel yang terlalu panjang.
Inilah masalah terbesar dari pemilik website dan blog.
Sudah capek-capek bikin artikel…
Tidak ada yang baca sampai selesai…
Lalu tidak ada yang berkunjung ke websitenya…
Akhirnya artikel mereka gagal mendapatkan peringkat di Google. Meskipun sudah belajar yang namanya SEO.
Tapi jangan khawatir, ada solusinya.
Di dalam panduan ini saya akan mengajarkan anda bagaimana cara menulis artikel yang tidak membosankan bagi pengunjung website.
Mari kita mulai.
0. Lupakan SEO
Kalau anda baca di situs-situs lain, katanya supaya website kita banyak yang baca, maka artikelnya harus dioptimasi untuk mesin pencari atau SEO.
Istilahnya “artikel SEO-friendly”.
Sayangnya, konsep ini sudah ketinggalan jaman.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Mereka yang mengaplikasikan teknik SEO (jadul) justru gagal, dan mereka yang melupakan SEO ketika menulis artikel justru mendapatkan peringkat tinggi.
Gila kan?
Ini karena mereka yang fokus dengan SEO secara tidak sadar malah membuat artikel untuk mesin.
Artikel yang tidak menarik dibaca oleh manusia.
Oleh karena itu, dalam panduan ini saya mengajak anda untuk melupakan SEO-friendly dan fokus ke “human-friendly”.
Dulu, yang kita anggap sebagai artikel SEO adalah yang seperti ini:
- Memiliki keyword density sekian persen
- Panjang minimal 300/500 kata
- Bold, underline, italic di setiap keyword
- Keyword di judul, paragraf pertama, paragraf terakhir
- Keyword di meta description
- Menggunakan subheader (h2-h6) yang berisi keyword
Dengan adanya program ini, anak-anak merasa senang dengan kehadiran mereka walaupun dalam kurun waktu yang cukup singkat sudah membawa suasana pengajaran yang menarik untuk anak-anak di daerah tersebut. “Dengan berbekal sedikit arahan dari para senior IYTEP, mengingat perbedaan bahasa yang digunakan antara kami yang menggunakan bahasa Melayu-Klantan dan mereka yang menggunakan bahasa Melayu-Pattani membuat kami sedikit kesulitan dalam berkomunikasi.” Tuturnya dalam wawancara kami kali ini.